Pempek Candy Paket C (1 Kapal Selam, 6 Lenjer Kecil, 6 Telor Kecil, 7 Adaan)

  • Bagikan di Facebook
  • Paket Pempek C (1 Kapal Selam, 6 Lenjer Kecil, 6 Telor Kecil, 7 Adaan) -  Candy

    Saran penyajian

    Pempek Kulit digoreng dalam minyak panas sebelum disajikan dan disiram dengan kuah cuko/cuka. Lebih nikmat jika dimakan dalam keadaan masih hangat.

    Bahan Dasar

    Ikan yang sudah digiling, Tepung Terigu, Tepung Sagu, Santan, Bawang Merah, Daun Bawang, Telur Ayam, Garam dan Air

    Rp 109.000

    - +

    Pempek Adaan

    Menurut sejarah, Pempek telah ada di Palembang sejak perantau dari Tionghoa masuk ke Palembang, sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di Kesultanan Palembang – Darussalam. Nama Pempek diyakini berasal dari sebutan “Apek” atau “Pek-Pek”, yaitu sebutan untuk paman atau lelaki tua keturunan Tionghoa. 

    Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang Apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan tepian Sungai Musi merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi namun belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik. Saat itu ikan hanya sebatas digoreng dan dipindang. Kemudian Apek tersebut mencoba alternatif pengolahan lain dengan mencampur ikan giling dengan tepung tapioka sehingga menghasilkan makanan baru. Makanan tersebut dijajakan oleh para Apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “Pek… Apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai Pempek.

    Pada awalnya, bahan dasar untuk membuat Pempek menggunakan Ikan Belida karena pada saat itu Ikan Belida sangat melimpah di Sungai Musi. Namun seiring berjalannya waktu, Pempek tidak hanya dibuat dari Ikan Belida. Peningkatan permintaan akan Pempek tidak terimbangi dengan jumlah Ikan Belida. Semakin langka dan mahalnya Ikan Belida yang akhirnya membuat penjual Pempek mengganti dengan jenis ikan lainnya seperti ikan gabus, ikan tenggiri, ikan ekor kuning, ikan sebelah dan ikan lainnya dengan rasa yang tetap gurih.

    Penyajian Pempek disuguhi dengan saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang didihkan dengan gula merah, udang ebi, cabe rawit, bawang putih dan garam. Untuk masyarakat asli Palembang, rasa cuko dibuat dengan pedas. Namun, seiring masuknya pendatang ke pulau Sumatera maka banyak ditemukan cuko dengan rasa agak manis.

    Pempek terdiri dari beberapa jenis, yaitu Pempek Kapal Selam, Pempek Adaan, Pempek Kulit dan Pempek Lenjer. Pempek Adaan merupakan varian pempek yang cukup digemari dibandingkan dengan varian lainnya. Dari segi rasa, Pempek Adaan merupakan Pempek yang paling gurih karena mengandung santan dan rempah-rempah asli Indonesia.

    Proses pembuatan Pempek Adaan sangat mirip dengan pembuatan bakso. Bahkan jika diperhatikan lebih seksama, Pempek Adaan dapat disebut “Bakso Ikan Goreng”.

    Pempek Adaan ini sangat berbeda dari cara pembuatannya jika dibandingkan dengan Pempek lainnya, karena pempek yang satu ini tidak melalui proses perebusan. Adonan Pempek Adaan yang sudah siap, dibentuk menjadi bulat-bulat dengan sendok dan dimasukkan ke dalam minyak panas. Pempek Adaan merupakan pempek yang eksklusif disajikan saat perhelatan acara di Palembang. Tidak semua tuan rumah akan menyajikan Pempek Adaan, namun jika disajikan, sudah dipastikan bahwa si tuan rumah sangat menghargai tamu-tamunya

    Pempek Kulit

    Menurut sejarah, Pempek telah ada di Palembang sejak perantau dari Tionghoa masuk ke Palembang, sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di Kesultanan Palembang – Darussalam. Nama Pempek diyakini berasal dari sebutan “Apek” atau “Pek-Pek”, yaitu sebutan untuk paman atau lelaki tua keturunan Tionghoa.

    Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang Apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan tepian Sungai Musi merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi namun belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik. Saat itu ikan hanya sebatas digoreng dan dipindang. Kemudian Apek tersebut mencoba alternatif pengolahan lain dengan mencampur ikan giling dengan tepung tapioka sehingga menghasilkan makanan baru. Makanan tersebut dijajakan oleh para Apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “Pek… Apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai Pempek.

    Pada awalnya, bahan dasar untuk membuat Pempek menggunakan Ikan Belida karena pada saat itu Ikan Belida sangat melimpah di Sungai Musi. Namun seiring berjalannya waktu, Pempek tidak hanya dibuat dari Ikan Belida. Peningkatan permintaan akan Pempek tidak terimbangi dengan jumlah Ikan Belida. Semakin langka dan mahalnya Ikan Belida yang akhirnya membuat penjual Pempek mengganti dengan jenis ikan lainnya seperti ikan gabus, ikan tenggiri, ikan ekor kuning, ikan sebelah dan ikan lainnya dengan rasa yang tetap gurih.

    Penyajian Pempek disuguhi dengan saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang didihkan dengan gula merah, udang ebi, cabe rawit, bawang putih dan garam. Untuk masyarakat asli Palembang, rasa cuko dibuat dengan pedas. Namun, seiring masuknya pendatang ke pulau Sumatera maka banyak ditemukan cuko dengan rasa agak manis.

    Pempek terdiri dari beberapa jenis, yaitu Pempek Kapal Selam, Pempek Adaan, Pempek Kulit dan Pempek Lenjer. Pempek Kulit memiliki bahan dasar yang paling berbeda dari pempek lainnya. Dari namanya bisa diketahui bahwa bahan dasarnya adalah kulit ikan. Kulit yang digunakan biasanya berasal dari kulit ikan belida atau ikan tenggiri. Namun karena kulit ikan memiliki bau yang sangat amis dan warnanya juga hitam, maka dalam perkembangannya beberapa orang menggantinya atau mencampur dengan daging perut ikan sebagai bahan dasar utama pempek yang satu ini. 

     

    Pempek Kapal Selam

    Menurut sejarah, Pempek telah ada di Palembang sejak perantau dari Tionghoa masuk ke Palembang, sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di Kesultanan Palembang – Darussalam. Nama Pempek diyakini berasal dari sebutan “Apek” atau “Pek-Pek”, yaitu sebutan untuk paman atau lelaki tua keturunan Tionghoa.

    Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang Apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan tepian Sungai Musi merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi namun belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik. Saat itu ikan hanya sebatas digoreng dan dipindang. Kemudian Apek tersebut mencoba alternatif pengolahan lain dengan mencampur ikan giling dengan tepung tapioka sehingga menghasilkan makanan baru. Makanan tersebut dijajakan oleh para Apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “Pek… Apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai Pempek.

    Pada awalnya, bahan dasar untuk membuat Pempek menggunakan Ikan Belida karena pada saat itu Ikan Belida sangat melimpah di Sungai Musi. Namun seiring berjalannya waktu, Pempek tidak hanya dibuat dari Ikan Belida. Peningkatan permintaan akan Pempek tidak terimbangi dengan jumlah Ikan Belida. Semakin langka dan mahalnya Ikan Belida yang akhirnya membuat penjual Pempek mengganti dengan jenis ikan lainnya seperti ikan gabus, ikan tenggiri, ikan ekor kuning, ikan sebelah dan ikan lainnya dengan rasa yang tetap gurih.

    Penyajian Pempek disuguhi dengan saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang didihkan dengan gula merah, udang ebi, cabe rawit, bawang putih dan garam. Untuk masyarakat asli Palembang, rasa cuko dibuat dengan pedas. Namun, seiring masuknya pendatang ke pulau Sumatera maka banyak ditemukan cuko dengan rasa agak manis.

    Pempek terdiri dari beberapa jenis, yaitu Pempek Kapal Selam, Pempek Adaan, Pempek Kulit dan Pempek Lenjer. Pempek Kapal Selam adalah jenis Pempek yang paling popular di Indonesia dan menjadi standar bagi setiap pecinta Pempek untuk menilai rasa dari Pempek yang dijual. Tidak ada yang tahu persis dari mana asal penyebutan nama Pempek yang satu ini. Ada yang mengatakan bahwa nama tersebut diperoleh dari bentuknya yang lonjong seperti kapal selam. Ada juga yang menyebut kapal selam karena saat direbus Pempek ini tenggelam dan berada di dasar panci. Pempek Kapal Selam itu sendiri memang baru akan mengapung setelah matang. Dalam pembuatannya, Pempek yang satu ini tidak semudah kelihatannya. Tangan pembuat Pempek ini harus cekatan karena Pempek Kapal Selam berisi satu telur ayam utuh.

    Belum ada komentar dari pelanggan.

    Tulis komentar Anda

    Pempek Candy Paket C (1 Kapal Selam, 6 Lenjer Kecil, 6 Telor Kecil, 7 Adaan)

    Pempek Candy Paket C (1 Kapal Selam, 6 Lenjer Kecil, 6 Telor Kecil, 7 Adaan)

    Paket Pempek C (1 Kapal Selam, 6 Lenjer Kecil, 6 Telor Kecil, 7 Adaan) -  Candy

    Saran penyajian

    Pempek Kulit digoreng dalam minyak panas sebelum disajikan dan disiram dengan kuah cuko/cuka. Lebih nikmat jika dimakan dalam keadaan masih hangat.

    Bahan Dasar

    Ikan yang sudah digiling, Tepung Terigu, Tepung Sagu, Santan, Bawang Merah, Daun Bawang, Telur Ayam, Garam dan Air

    Tulis komentar Anda

    Produk Pilihan